Pakar: Hujan Lebat Sumbar Dampak dari OMJ

0
176

Pakar: Hujan Lebat Sumbar Dampak dari OMJ

Pewarta : Lestarysca


Pakar bidang atmosfer dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Dr. Techn Marzuki. (ANTARA SUMBAR/Dokumen Pribadi)

Padang, (Antara Sumbar) – Pakar cuaca dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumbar, Dr techn Marzuki mengatakan hujan lebat yang terjadi beberapa hari terakhir di provinsi itu merupakan dampak dari Osilasi Madden Julian (OMJ).
"OMJ yakni gelombang yang terjadi pada lapisan atmosfer di kawasan tropis dengan durasi 30-90 hari, yang mana akan bergerak ke arah Timur dengan kecepatan rata-rata 5 meter per detik," katanya di Padang, Rabu.
OMJ ini biasanya datang ditandai oleh adanya awan-awan berskala super yang bergerak ke arah Timur dari Samudera Hindia, karena daratan pertama yang disentuh oleh osilasi di Indonesia adalah Sumatera maka dataran tersebut paling kuat mengalami dampak OMJ.
Awal terbentuknya fenomena ini berasal dari Samudera bagian Barat (Afrika) dan akan menghilang di sekitar kawasan tersebut setelah mengelilingi dunia di equator.
Sebenarnya sejak 14 September Indonesia telah dilalui oleh fenomena ini yang berupa pergerakan awan berskala besar dari Samudera hindia.
Namun dari 18 September fenomena OMJ ini sudah melemah dengan indek kurang dari satu, sehingga tekanan rendah masih terjadi di Indonesia terutama di sekitar Sumatera dan Samudera hindia.
"Dengan adanya tekanan rendah terbentuk di Sumatera dan lautan sekitarnya, maka awan-awan hujan banyak terbentuk kondisi ini berpotensi terjadi hujan-hujan lebat di kawasan tersebut," ujarnya.
Menurut dia, saat ini posisi Osilasi ini masih di atas Indonesia yakni berada pada fase ke-4 dengan intensitas lemah, namun kondisi hujan seperti sekarang bisa saja berlangsung hingga 28 September 2017.
Namun, ada satu hal yang mungkin perlu diwaspadai dengan keadaan cuaca seperti ini dalam tiga hari ke depan yaitu fenomena Equinox.
Quinox merupakan kondisi dimana matahari berada tepat di atas khatulistiwa, jadi matahari berada pada posisi terdekat dengan bumi karena itu bumi akan menerima radiasi yang lebih tinggi dari normal.
"Hal ini dapat memicu hujan lebat juga karena bisa meningkatkan jumlah penguapan sehingga hujan lebih banyak terjadi dan temperatur bumi bisa sedikit lebih tinggi dari normal," ujarnya.
Dalam setahun Equinox bisa terjadi dua kali yakni, Maret dan September sementara untuk pada September biasanya terjadi antara di tanggal 22, 23, dan 24. (*)

Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Berita Lainnya

Komentar Pembaca
Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here