NTT

Seorang Ayah Tega Jadikan Anaknya Sebagai Budak Sex Selama 7 Tahun hingga Miliki 3 Anak

Kasus pencabulan dan pemerkosaan ayah terhadap anak kandung kembali terungkap di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Sadisnya, selama tujuh tahun, korban menjadi budak seks ayah kandungnya.

Akibatnya, dalam kurun waktu tahun 2007 hingga 2014, korban melahirkan 3 anak hasil pencabulan ayah kandung.

Yang menyedihkan, dua dari tiga anak yang dilahirkan, mengalami cacat mental.

Untuk menghindari aksi pelaku berlanjut, korban menikah dengan seorang pria pada tahun 2018 lalu, namun pelaku seolah-olah tidak rela.

Berbagai cara dilakukan pelaku, agar anaknya kembali ke rumah. Mulai dari menakuti korban kalau ia bermimpi soal nenek moyang, hingga menakuti korban soal urusan adat istiadat.

Saat korban dan suaminya memilih tinggal dengan pelaku, pelaku malah mengusir suami yang merupakan menantunya sendiri, lalu kembali melancarkan aksi biadabnya.

Ibu korban (istri pelaku) hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat apa-apa, karena takut dengan ancaman pelaku.

Ketiga anak korban yang lahir karena aksi bejat ayah kandungnya kini dalam perawatan ibu korban atau istri pelaku.

Aksi bejat ini dilakukan Timotius Wuraka Ledi alias Ledi, warga Jalan Pengerasan Weepawu, Desa Wailibo, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat.

Ia mencabuli dan memperkosa anak kandungnya, MTG selama bertahun-tahun. Aksi tidak terpuji ini selalu dilakukan Ledi di kebun milik pelaku di Kampung Wenita, Desa Wailibo, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat.

Kasus ini sudah dilaporkan korban ke Polres Sumba Barat dengan laporan polisi bernomor LP/B/181/XI/RES 1.4/2020 / SPKT.

Ancaman Pembunuhan

Terungkapnya aksi bejat pelaku bermula pada pada Sabtu (28/11) lalu di rumah pelaku. Saat itu korban tinggal kembali di rumah pelaku. Sementara suami korban, Agustinus JR berada di kampung Pronawo.

Pelaku menarik paksa baju korban hingga robek dan meremas payudara korban. Pelaku memaksa korban untuk berhubungan badan, dengan menarik paksa korban hingga bajunya robek dan dada korban tercakar oleh kuku pelaku.

Namun pemerkosaan tersebut gagal, karena korban melawan dan berhasil melarikan diri ke rumah tetangganya. Korban berlindung ke rumah Yunita DG, meminjam HP tetangganya tersebut, untuk menelpon suaminya Agustinus JP yang sedang berada di Kampung Pronawo.

Korban memberitahukan suaminya soal percobaan pemerkosaan tersebut. Namun pelaku kembali memanggil korban yang berada di rumah tetangganya.

Karena takut ancaman pelaku, korban pun pulang kembali ke rumahnya, tapi korban tidak masuk ke dalam rumah dan hanya duduk di depan rumah sambil menunggu jemputan suaminya.

Sementara suami korban, Agustinus ke rumah kepala Desa Wailibo, Lukas Lowa Bole melaporkan peristiwa percobaan pemerkosaan oleh pelaku.

Ia meminta bantuan kepala desa untuk menjemput korban di rumah pelaku, karena Agustinus tidak berani menjemput istrinya sendiri di rumah pelaku.

Agustinus telah diusir pelaku dari rumah. Walaupun ia mengetahui persis perbuatan pelaku terhadap korban yang saat ini sudah menjadi istrinya, namun Agustinus tidak bisa berbuat apa-apa.

Kepala desa Wailibo kemudian meminta bantuan Kedu Nyanyi ke rumah pelaku untuk menjemput korban.

Kepala desa meminta Kedu Nyanyi beralasan kalau ia menjemput korban atas perintah Kepala Desa, untuk menanda tangani penerimaan uang bantuan COVID-19 yang tidak boleh diwakili, dengan maksud agar pelaku tidak menghalangi proses penjemputan korban.

Kedu Nyanyi menjemput korban yang sudah menunggu di depan rumah pelaku. Ia menyampaikan pesan kepada pelaku seperti yang dipesankan kepala desa, pelaku pun mengijinkan korban pergi dan mereka langsung ke rumah Kepala Desa Wailibo.

Korban menceritakan kepada kepala desa dan suaminya kalau ia nyaris diperkosa pelaku. Kepala desa menyuruh korban dan suaminya untuk melaporkan peristiwa tersebut ke pihak kepolisian.

Tag
Show More

Berita Terkait

Close