Aceh

Ini Asal-Usul Nama Kota Tapaktuan, Legenda Pertarungan Syech Tuan Tapa dengan Naga

Bicara Tapaktuan Ibu Kota Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh tentu tidak asing lagi ditelinga masyarakat di seantero Nusantara.

Pasalnya, kota kecil mungil ini selain didiami oleh Suku Aceh, sebagian besar penduduknya merupakan warga keturunan Minang Kabau yang oleh warga setempat disebut Suku Aneuk Jamee.

Sehingga jangan heran, jika anda berkunjung ke Tapaktuan, Ibukota Kabupaten Aceh Selatan ini anda akan mendengar warga setempat berkomunikasi dengan bahasa Minang Kabau dialek Aceh.

Bahkan di beberapa Gampong (Desa) dalam Kecamatan Tapaktuan, bahasa Aneuk Jamee yang diguanakan masih kentara dengan dialek Minang Kabau-nya.

Keberagaman bahasa dan asal usul suku di Ibukota Kabupaten Aceh Selatan ini bukan membuat masyarakat terpecah belah.

Malahan semakin membuat masyarakat setempat menyatu dan saling menghargai keberagaman antara satu sama lain.

Bagi mereka, dimana bumi dipijak disinan langit dijunjung.

Cerita legenda tapak kaki Tuan Tapa menjadi asal muasal nama ibukota Kabupaten Aceh Selatan ini.

Legenda Tapak Tuan ini telah menjadi cerita rakyat turun temurun dan dipercaya masyarakat di sana.

Itulah tapak kaki Tuan Tapa, tokoh dalam cerita legenda Aceh Selatan yang lokasinya di kawasan Gunung Lampu, Desa Pasar, Tapaktuan.

Keberadaan tapak yang terletak di kaki Gunung Lampu ini menjadi daya tarik wisatawan lokal dan mancanegara.

Untuk berkunjung ke lokasi ini pengunjung harus menelusuri jalan setepak di lereng gunung yang sudah disemen oleh Pemkab Setempat.

Menurut cerita rakyat, dulu di sana hidup seorang pertapa sakti bertubuh raksasa yang sangat taat kepada Allah SWT yang bernama Syech Tuan Tapa.

Suatu hari, ada sepasang naga dari negeri China menemukan seorang bayi terapung di tengah laut. Sepasang Naga ini kemudian merawat bayi tadi dengan penuh kasih sayang.

Bayi itu beranjak dewasa dan menjadi seorang gadis yang cantik. Suatu saat datanglah sebuah kapal dari Kerajaan Asranaloka dari India.

Ternyata dulu dia pernah kehilangan putrinya.

Saat raja melihat gadis cantik tadi, raja yakin bahwa dia-lah putrinya yang hilang dulu terhanyut dibawa air laut.

Raja hendak meminta putrinya kembali kepada sepasang naga. Permintaan itu ditolak.

Tanpa pikir panjang, raja membawa lari putrinya naik ke dalam kapal. Kedua naga marah dan mengejar raja hingga terjadi pertempuran di tengah laut.

Pada saat mereka berkelahi, Tuan Tapa yang sedang bertapa di sana merasa terganggu dan mencoba melerai perkelahian itu dan meminta kepada sepasang naga untuk mengembalikan putri tersebut.

Namun sayang, naga-naga tersebut tetap tidak mau, malahan mengajak Tuan Tapa untuk bertarung.

Namun, dalam pertarungan tersebut, sepasang naga kalah dan putri pun dikembalikan kepada orangtuanya.

Sedangkan jejak kaki di lokasi Gunung Lampu itu menurut cerita merupakan Tapak Syehc Tuan Tapa saat dia berdiri dan berkelahi dengan sepasang naga.

Demikianlah sepenggal cerita legenda Tapak Tuan yang saat ini diabadikan menjadi nama Ibukota Kabupaten Aceh Selatan.
Jika masih penasaran dengan pegenda Tuan Tapa ini yuk berwisata ke Aceh Selatan/

Sebab di Kabupaten ini anda juga bisa menggali berbagai cerita menarik lainnya tentang Tapaktuan dan keragaman suku yang ada di Kabupaten ini.

Show More

Related Articles

Close