NTT

Rumah Kumuh Arek Disulap Relawan Taman Daun Lembata Jadi Rumah Layak Huni Dengan Gemohing

Agatha Arek atau yang biasa disapa Mama Arek, kurang lebih telah 30 tahun lamanya tinggal di sebuah rumah kecilnya yang lebih menyerupai pondok di kebun di Desa Leudanung, Kecamatan Omesuri, Kab. Lembata.

Bagi sebagian orang yang tak tahu, banyak yang mengira pondok kecil itu adalah rumah singgah ketika berada di kebun, namun ternyata itu adalah rumah yang ia tempati bersama dengan dua orang anak perempuannya dan enam cucunya.

Pondok kecil tersebut tidak layak disebut sebagai rumah karena tidak memiliki jendela, atap rumah, pintu, toilet dan juga tempat tidur yang layak.

Setiap hari mereka harus tidur di atas bale-bale dari bambu yang beratapkan daun lontar. Apa yang sebenarnya membuat Mama Arek dan keluarga bisa tinggal di pondok kecil tersebut selama itu? Ternyata memang karena kondisi ekonomi yang sangat pas-pasan yang ia dapatkan dari hasil kebun yang dimilikinya.

Pendapatannya pun tak sampai 300.000 per bulan dan harus digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup 9 orang yang tinggal di dalamnya.

Keseharian mama Arek adalah berkebun dan dia akan menjual hasil kebunnya yang berupa kemiri, asam, dan mente ke Pedagang Kaki Lima (PKL) di pasar setiap selesai panen.

Anak Mama Arek pun dua-duanya tidak bekerja sehingga mereka sangat bergantung dengan penghasilan yang didapatkan dari hasil kebun mereka tersebut.

Namun, Mama Arek dan keluarga selama ini juga sering mendapatkan bantuan dari keluarga dekatnya yang ada di Desa Leudanung yang berada di tengah kampung tersebut.

Bapak Lukas (62 tahun) adalah saudara laki-laki Mama Arek dan selalu membantu kebutuhan sehari-harinya.

Tag
Show More
Close