Aceh

Aceh Ekspor Tuna ke Singapura

Pasca-Lebaran Idul Fitri 1441Hijriah, sejumlah perusahaan eksportir ikan tuna membuka kembali pasar ekspor dari Aceh ke Singapura. Salah satu diantaranya adalah PT Aceh Lampulo Jaya Bahari. Perusahaan pengolahan ikan tuna yang berada di PPS Kutaradja, Lampulo, Banda Aceh ini, pada akhir Mei lalu mengekspor ikan tuna ke Singapura via udara sebanyak 500 kg.

General Manager PT Aceh Lampulo Jaya Bahari, Yohannes kepada Serambi, Senin (1/6/2020) menjelaskan, pada minggu pertama Juli ini pihaknya akan kembali ekspor ikan tuna via Bandara Internasional SIM Blangbintang, Aceh Besar, ke Singapura sebanyak 600 kg.

Dikatakan, peluang untuk mengekspor ikan tuna ke sejumlah negara, baik Eropa, Amerika, dan juga Asia, seperti Jepang dan Singapura sangat besar. Apalagi perairan Aceh sangat kaya akan ikan tuna. Yohannes memperkirakan hasil tangkapan ikan tuna olah nelayan akan banyak, terutama pada bulan Mei hingga Desember.

“Biasanya dari bulan Mei hingga Desember hasil tangkapan nelayan, terutama jenis ikan tuna sangat banyak. Tentunya ini menjadi peluang bagi Aceh untuk menjadi eksportir ikan tuna ke sejumlah negara,” tuturnya.

Dikatakan Yohannes, ikan tuna sangat digemari di berbagai negara. Di Jepang misalnya, masyarakatnya sangat donyan dengan ikan tuna, terutama tuna sirip kuning. “Harga tuna jenis ini di Jepang Rp 90.000/kg. Sedangkan di Aceh harganya berkisar Rp 30.000 hingga Rp 40.000 setiap kilonya.”

Selain jenis ikan tuna, kata Yohannes, perusahaannya juga menampung dan membeli ikan tongkol. Harga ikan ini, jauh lebih murah dari harga ikan tuna. Harga ikan tongkol pada saat banyak ikan, bisa di bawah Rp 5.000/kg, untuk pembelian partai besar, tapi harga eceran di pasar tetap tinggi berkisar Rp 20.000-Rp 25.000/kg.

“Biasanya kalau lagi musim, kami bisa mengirim hingga 200 ton ke pabrik pengolahan milik PT Aceh Lampulo Jaya Bahari di Kawasan Industri Medan (KIM) Belawan,” tandasnya.

Pada tahun lalu, kata Yohannes, pihaknya sempat merencanakan pembangunan tempat pengolahan dan pengalengan ikan di PPS Kutaradja Lampulo. Tapi karena kondisi ekonomi belum juga membaik, rencana pembangunan pabrik pengolahan dan pengalengan ikan jadi tertunda.

Ia mengatakan, pabrik pengolahan dan pengalengan ikan yang terdapat di Kawasan Industri Medan, Belawan itu, diakui mendapat suplai ikan dari PPS Kutaradja Lampulo. Jumlahnya bisa mencapai 80 persen, dari kapasitas pabrik. Untuk mengirim ikan hasil pembelian dari PPS Kutaradja Lampulo ke Medan, menggunakan mobil box pendingin, dengan kapasitas angkut 20-30 ton.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Dr Ilyas MP mengatakan, sejak Mei, Juni hingga Desember, di perairan laut Aceh, terutama perairan wilayah bagian barat, mulai musim ikan tuna, tongkol, dan cakalang.

Pada Senin (1/6/2020) kemarin saja, sedikitnya ada 10 unit boat nelayan ukuran 50-100 GT yang bongkar hasil tangkapan, di dermaga I PPS Kutaradja Lampulo.

Dari sejumlah boat nelayan yang membongkar hasil tangkapan, ada juga ikan tuna berukuran 30-60 kg per ekor.

Tuna berukuran besar itu, kata Ilyas, biasanya dijual ke perusahaan pengolahan dan pengalengan ikan seperti PT Aceh Lampulo Jaya Bahari, PT Yakin Tuna Pasific dan lainnya. Tuna sirip kuning harganya sedikit mahal. Paling rendah untuk kualitas super di PPS Kutaradja Lampulo, dihargai toke bangkunya berkisar Rp 25.000-Rp 30.000/kg. Untuk satu ekor tuna besar seberat 60 kg seharga Rp 1,5 juta-Rp 1,8 juta.

“Pedagang yang ingin membeli ikan tuna ukuran besar tersebut, selalu minta di perlihatkan dagingnya melalui alat tes tusuk sepanjang 20 cm,” jelasnya.

Tag
Show More
Close