Nasional

Kemenkes Akui Rapid Test yang Dilakukan ke Warga Validitasnya Kurang

Pemerintah telah menggunakan rapid test kit sebagai alat pendeteksi awal corona. Alat tersebut diprioritaskan bagi tenaga medis dan orang yang pernah kontak dekat dengan pasien positif corona.

Meski demikian, Kementerian Kesehatan menyatakan rapid test berbasis imunoglobin atau antibodi yang digunakan saat ini validitasnya kurang. Hal itu disampaikan Kepala Badan Litbangkes Kemenkes, Siswanto, dalam rapat kerja dengan Komisi IX secara teleconference.

Meski demikian, kata Siswanto, rapid test antibodi tersebut cukup bagus sebagai langkah pemindaian awal.

“Rapid test antibodi yang sudah dibagikan itu kalau dilihat dari validitas memang kurang, tapi lumayan untuk screening,” ujar Siswanto, Kamis (2/4).

Diketahui rapid test antibodi yakni pemeriksaan yang mendasarkan pada terbentuknya antibodi dalam tubuh jika terdapat virus pada tubuh.

Namun orang yang hasilnya negatif belum tentu bebas corona. Seseorang tersebut harus kembali menjalani rapid test 7-10 hari setelahnya karena imunoglobin baru terbentuk 6-7 hari setelah virus menginfeksi tubuh.

Sementara bagi yang positif, harus menjalani tes real time PCR atau swab tenggorokan. Hal itu untuk memastikan apakah positif COVID-19 atau tidak.

“Yang paling canggih adalah PCR. ini adalah pemeriksaan biomolekuler yang canggih karena untuk deteksi gen dari virus ini,” tutupnya.

Tag
Show More

Related Articles

Close