Nasional

Rahasia Klub Pertamina Fastron Kebanjiran Gelar Sepanjang 2019

JawaPos.com- Sepanjang 2019, prestasi para pemain klub Pertamina Fastron memang sensasional. Di setiap seri Sirkuit Nasional, mereka minimal sanggup mendulang dua gelar. Kuncinya adalah langkah yang cerdik. Siasat yang pintar. Serta pengelolaan yang profesional.

———

SAMBIL duduk melakukan peregangan, pebulu tangkis klub Pertamina Fastron Jakarta, Wisnu Yuli Prasetyo, lama memegangi telapak kaki kanannya.

Ingatannya melayang jauh setelah laga melawan Mario Gondo Kusumo pada babak 32 besar Djarum Sirnas Premier Jatim Open 2019 di GOR Wilis Madiun, Selasa (12/11).

’’Saya sempat istirahat total sampai empat bulan gara-gara cedera retak di sini,” katanya kepada Jawa Pos sambil masih memegangi telapak kaki kanannya.

Wisnu Yuli baru kembali turun ke lapangan Juni lalu di Sirnas Bandung. Tetapi, perlahan namun sangat pasti, grafik permainannya terus terkerek naik.

Sebulan setelah pulih, Wisnu sudah berhasil menjadi kampiun di Sirnas seri Kalimantan Selatan di Banjarmasin pada awal Agustus. Dua bulan berselang, pemain 25 tahun itu kembali mengangkat trofi pada seri Sulawesi Utara di Manado.

Pada seri Madiun November ini, peluang Wisnu terbuka lebar untuk mendapat gelar ketiga Sirnas sepanjang 2019.

Tinggal dua langkah lagi.

Kemarin (14/11), mantan pemain pelatnas Cipayung tersebut memastikan tiket semifinal usai menumbangkan Rifan Fauzin Ivanudin dari ISTC Berkat Abadi Sukabumi dalam dua game langsung 21-18, 21-9.

Tapi, seperti yang biasa diutarakannya, dia tetap memilih merendah. Wisnu masih enggan terlalu berandai-andai.

Ndak mau mikir juara dulu. Fokus ke satu-satu pertandingan saja,” ucap pemain kelahiran Tulungagung yang sempat dijuluki Raja Sirnas tersebut.

Wisnu Yuli Prasetyo berlaga di Sirkuit Nasional di GOR Wilis, Madiun. (Angger Bondan/Jawa Pos)

Wisnu bukanlah satu-satunya atlet Pertamina Fastron yang berpeluang mengangkat trofi di Sirnas edisi pamungkas 2019 tersebut.

Pada sektor tunggal dewasa putra, rekan setimnya, Riyanto Subagja juga melesat ke babak empat besar.

Sementara itu, pada tunggal dewasa putri, Dinar Dyah Ayustine juga sudah menembus semifinal. Pada perempat final, kampiun Vietnam International Challenges 2018 tersebut mengalahkan Silvi Wulandari dari klub Berkat Abadi Banjar dengan skor nyaman 21-12, 21-15.

Untuk kategori ganda dewasa, Pertamina Fastron malah lebih dominan.

Klub ini sukses menempatkan masing-masing dua wakil di semifinal. Yakni di ganda dewasa campuran dan ganda dewasa putri.

Pada sektor ganda campuran, pebulu tangkis mereka Nadya Melati yang berpasangan dengan Putra Eka Rhoma (Jaya Raya Jakarta) menembus empat besar. Nadya/Putra Eka menumbangkan Ihsan Adam Wirawan/Dea Putri Wales (Keshab Timur Samarinda/PB AIC Badminton Academy).

Sementara itu, satu atlet Pertamina Fastron lainnya, Tiara Rosalia Nuraidah juga masuk semifinal. Tiara yang berpasangan dengan Dejan Ferdinansyah (Djarum Kudus) menekuk Alweyn Jantje Putra Mainaky/Maria Natalia Kartika Mainaky dari klub Putra Mainaky Tangerang Selatan.

Sayang, dua wakil Pertamina Fastron di ganda campuran itu tidak bisa mewujudkan final satu klub seperti pada sektor lain. Sebab, mereka sudah harus bentrok di semifinal.

Pada ganda putri, langganan juara Sirnas 2019, yakni Tiara/Nadya melaju ke semifinal. Satu wakil Pertamina Fastron lain di sektor ini adalah Dinar. Pemain asal Karanganyar, Jawa Tengah itu, juga turun di ganda putri. Dia berpasangan dengan Dea Putri Wales dari PB AIC Badminton Academy.

Khusus untuk Tiara/Nadya, di Madiun, mereka punya kans mencetak rekor baru Sirnas. Jika mampu menjadi kampiun, pasangan ini resmi tercatat sebagai peserta Sirnas pertama dalam sejarah yang sanggup menyapu bersih gelar pada setiap seri dalam satu musim.

Pada tujuh seri sebelumnya, Tiara/Nadya selalu berdiri di podium tertinggi. Mulai dari edisi perdana di Purwokerto pada Maret. Sampai di seri ketujuh di Manado pada September lalu. ”Peluangnya terbuka lebar. Tapi tetap harus hati-hati,” ucap Ardiansyah Putra, pelatih Pertamina Fastron kepada Jawa Pos.

Sepanjang 2019, prestasi para pemain Pertamina Fastron memang moncer. Di setiap seri Sirnas, mereka minimal sanggup membawa pulang dua gelar. Bahkan, pada seri Kalimantan Selatan, Agustus lalu, mereka berhasil menggondol tiga trofi.

Itu berasal dari sektor tunggal dewasa putra, tunggal dewasa putri, dan ganda dewasa putri.

Di Madiun kali ini, mereka punya peluang mengulangi raihan tersebut. Atau bahkan melebihinya! ’’Padahal target kami di awal musim hanya membawa satu gelar dari tiap Sirnas,” kata Ardiansyah.

Jadi Wadah, Agar Mantan Atlet Nasional Tetap Bisa Mengukir Nama
Tajamnya prestasi Pertamina Fastron tidak lepas dari komposisi skuad mereka yang diisi para pemain berpengalaman. Mayoritas dari anggota tim ini, merupakan jebolan klub-klub besar dan pernah merasakan gemblengan pelatnas. Mereka antara lain adalah Wisnu Yuli, Dinar, Tiara, maupun Nadya.

Ardiansyah menuturkan, tim yang bermarkas di Jakarta Utara tersebut memang memiliki langkah berbeda dari kebanyakan klub bulu tangkis tanah air.

Sampai saat ini, Pertamina Fastron menempatkan diri sebagai klub yang murni profesional. Berbeda dengan kebanyakan klub bulu tangkis di Indonesia yang lebih fokus pada pembinaan atlet sejak usia dini.

Jalan ini diambil agar para pebulu tangkis nasional berpengalaman tetap memiliki wadah untuk mengukir prestasi juga nama setelah mereka tak lagi beredar di pelatnas.

Ardiansyah menambahkan, banyak sekali pebulu tangkis Indonesia kebingungan setelah usianya dianggap terlalu tua. Baik itu di pelatnas maupun di tim asal mereka.

Padahal, sejatinya, fisik para pemain ini masih kuat untuk terus bertarung. Mereka masih sangat layak bertanding mengejar gelar. Entah itu di turnamen nasional maupun kejuaraan internasional.

’’Kalau sudah begitu (tidak terpakai, Red), ujung-ujungnya biasanya gantung raket atau ditampung tim luar negeri. Kan sayang,” ucap Ardiansyah yang juga mantan pemain nasional tersebut.

Tempat Terbaik Belajar Sebagai Profesional
Klub Pertamina Fastron dikenal selalu memiliki perhatian sangat tinggi juga komitmen besar terkait kontrak profesional dengan para pemainnya.

Dinar Dyah Ayustine menjadi satu-satunya andalan Pertamina Fastron di sektor tunggal putri. (Angger Bondan/Jawa Pos).

Pemain yang resmi meneken kerjasama dengan tim tersebut, bakal mendapatkan fasilitas berupa gaji, bonus, dan beberapa hal lain. Termasuk peluang mengikuti kejuaraan di luar negeri jika memiliki prestasi bagus. ’’Kalau sudah menang tiga Sirnas, baru boleh mengajukan main di luar negeri,” kata Ardiansyah.

Karena itu, tidak heran jika banyak sekali pebulu tangkis yang ingin merapat ke Pertamina Fastron. Tapi, sampai saat ini, Ardiansyah masih memilih bertahan dengan tujuh pemain yang ada dalam skuadnya. ’’Masih kami seleksi. Karena memang tidak boleh sembarangan memasukkan pemain,” ucapnya.

Dinar, satu-satunya pemain Pertamina Fastron di tunggal putri mengaku bahwa berada di klub ini membawa perubahan besar dalam hidupnya. Pertamina Fastron membuatnya benar-benar belajar arti sebagai seorang atlet profesional.

Suasananya, sangat berbeda dengan saat dia masih bernaung di Pelatnas atau klubnya terdahulu yakni PB Djarum Kudus. Sebelumnya, dia tinggal berlatih dan bermain. Dinar cuma perlu mengikuti program yang tersedia. Jadi, tidak perlu pusing memikirkan detail-detail teknis lainnya.

’’Di sini saya dituntut benar-benar mandiri dalam berbagai hal. Harus bertanggung jawab dengan diri sendiri. Termasuk dalam menjaga kondisi fisik,” kata pemain berusia 26 tahun itu.

Hal yang sama diutarakan Tiara. Sebagai seorang atlet, dia merasa Pertamina Fastron mampu memberinya timbal balik yang sangat mencukupi. Selain prestasi, tentu saja materi.

’’Kalau sudah seumuran saya gini, apa lagi yang dicari coba kalau ndak itu,” ucap pebulu tangkis 26 tahun tersebut lantas tersenyum. (*)

SUMBER

Show More

Related Articles

Close