Nasional

Investor Pergi, CLS Knights Memutuskan Cabut dari ABL

JawaPos.com– CLS Knights Indonesia di ASEAN Basketball League (ABL) tidak bertahan lama. Setelah menjuarai musim 2018–2019, tim kesayangan warga Surabaya itu memutuskan tidak memperpanjang kontrak.

Posisi mereka di ABL musim depan digantikan Fubon Brave, tim asal Taipei, Taiwan.

Ternyata, masalah yang dihadapi CLS lebih dalam dari sekadar mundur dari ABL. Mereka juga kehilangan investor yang menyokong klub sejak 2007. Christopher Tanuwidjaja, managing partner CLS, memutuskan resign dari klub.

’’Kontrak kami dengan ABL sudah habis. Begitu pula dengan saya. Setelah liga selesai, tugas saya sudah selesai. Saya putuskan untuk sudah tidak di basket profesional, mau istirahat,’’ ungkap Christopher saat dihubungi kemarin.

’’Sudah 12 tahun saya berkecimpung di dunia basket. Di situ saya tanya dengan pihak yayasan, mau lanjut ABL atau gimana. Nggak ada keputusan apa pun,’’ lanjut pria yang akrab disapa Itop tersebut.

Keputusan itu jelas mengejutkan. Bagaimanapun, tangan dingin Itop membawa CLS menjadi juara di level Asia Tenggara. Bahkan level Asia, karena sebenarnya ABL diikuti tim-tim dari luar ASEAN. Bintang CLS musim lalu, Maxie Esho, juga mendapat predikat most valuable player (MVP).

Itop menjelaskan, keputusan mundur dipertimbangkan sejak dua tahun lalu. Waktu itu dia mengajukan pensiun kepada Yayasan Cahaya Lestari Surabaya (CLS), yang menaungi CLS Knights. Namun, kondisinya kurang enak karena tim baru saja mundur dari Indonesia Basketball League (IBL). Dia akhirnya bertahan sampai kontrak dengan ABL selesai.

Ketika musim ABL sudah mendekati akhir, dia kembali menunjukkan tanda ingin berhenti. Ketika ditanya apakah CLS akan memperpanjang kontrak dengan ABL, dia tidak mau menjawab. Malah bilang ingin istirahat dan tidur panjang.

Ucapan itu diulang bahkan setelah CLS menjadi juara di kandang Singapore Slingers Mei lalu.

’’Yang pasti, saya mau punya waktu untuk lainnya. Karena basket profesional itu menghabiskan waktu banyak sekali,’’ ucap Itop. ’’Anak-anak saya juga mulai besar, sudah waktunya untuk mencurahkan waktu untuk keluarga,’’ lanjut suami mantan pebasket Sherly Humardani itu.

Itop belum mengetahui masa depan CLS sepeninggal dirinya. Yang jelas, beberapa pemain telah pindah ke klub-klub IBL. Misalnya Katon Adjie Baskoro yang kini memperkuat Pelita Jaya. Jan Misael Panagan bergabung dengan Stapac Jakarta. Sementara itu, Rachmad Febri Utomo pensiun. Arif Hidayat, yang saat ini sibuk di pelatnas, masih berstatus pemain CLS.

’’Kontrak beberapa pemain masih ada. Kalau masalah itu saya nggak terlalu khawatir. Yayasan ini sudah berdiri sejak 1946, nggak pernah ada masalah dengan gaji,’’ kata Itop. ’’Sekarang mereka mau liburan ke Eropa, hadiah juara ABL kemarin,’’ lanjutnya.

Perjalanan CLS

1946
Didirikan di Surabaya dengan nama Cun Lie Se. Berisi anak-anak muda penggemar basket. Pada masa Orde Baru, terjadi perubahan nama menjadi Cahaya Lestari Surabaya.

1982
Kobatama bergulir. CLS menjadi peserta tetap hingga kompetisi bubar pada 2002.

1990
Mendapat mandat dari KONI Jatim untuk mengelola GOR basket di kawasan Kertajaya. Pembangunan gedung didanai banyak donatur.

1990-an
Klub belum dikelola secara profesional. Pemain tidak digaji. Karena itulah, banyak yang hengkang ke klub-klub lain yang menawarkan gaji besar.

2007
Pengelolaan CLS diambil alih oleh manajemen baru. Dipimpin Christopher Tanuwidjaja. Berubah nama menjadi CLS Knights dan dikelola secara profesional.

2016
Untuk kali pertama, CLS menjuarai liga basket tanah air.

2017
Hengkang dari IBL karena liga mensyaratkan klub berbentuk PT. CLS tidak bisa memenuhi karena masih berupa yayasan.

2018–2019
Terjun di kompetisi ASEAN Basketball League (ABL).

2019
Juara ABL.

2019
Manajemen Knights meninggalkan CLS.

SUMBER

Show More

Related Articles

Close