Nah Ini Dia

Suami Seperti Ayam Jago, Bayi Baru Lahir Dibunuh

Home Nah Ini Dia

Suami Seperti Ayam Jago, Bayi Baru Lahir Dibunuh

Jumat, 12 Juli 2019 — 7:09 WIB

KELAKUAN Hendra, 35, dari Garut ini benar-benar seperti ayam jago. Sampai punya dua anak tak mau mengurusnya, semua dibebankan ke istri. Ny. Entin, 30, pun kesal. Anak ketiganya yang baru lahir langsung dicekik sampai mati, karena takut tak bisa mengurusnya. Tentu saja ibu muda nan tegaan itu jadi urusan polisi.

Dalam rumahtangga, urusan benggol dan bonggol harus berbanding lurus. Jangan hanya kuat di onderdil, tapi lemah di materil. Sebaliknya, kuat di materil tapi lemah di onderdil istri juga tidak mau. Jika bonggol dan benggol berjalan seimbang, niscaya rumahtangga yang sakinah mawadah warahmah, akan terwujudkan. Paling tidak, takkan sampai masuk kolom ini.

Awalnya rumahtangga Hendra – Entin yang tinggal di Malangbong ini ini bahagia nan sejahtera. Tapi begitu Hendra terkena PHK di perusahaan tempat bekerja, semuanya jadi berubah. Cari kerja baru tak dapat-dapat, dia jadi putus asa, tak mau lagi cari kerja. Ekonomi rumahtangga pada akhirnya jadi beban mertua.

Ironisnya, meski urusan perut terbengkelai, Hendra menuntut selalu terjadi dalam soal yang di bawah perut. Walhasil, sampai punya dua anak ekonominya tak kunjung membaik. Akibatnya kedua anak mereka kurus-kurus tidak terurus, perut buncit seperti iklan obat cacing Kam Tjek San (Bintang Tujuh).Padahal saat pacaran dulu Hendra selalu bilang, nanti pertumbuhan ekonomi kita akan mencapai dua digit, 10 persen.

Nyatanya? Janji kampanye asmara itu tak ditepati. Bahkan ketika Entin mengandung anaknya yang ketiga, Hendra malah niru-niru Bang Toyib, berbulan-bulan tidak pulang. “Tidak kangen sama istri, mestinya juga kangen sama anak,” kata Entin, dalam bahasa Sunda tentunya.

Itu kan jika Hendra bapak yang normal dan punya akal sehat. Tapi karena suami Entin ini dungu sebagaimana kata Rocky Gerung, ia biasa saja lama tak ketemu anak-anaknya. Benar-benar dia sudah seperti ayam jago. Kerjanya hanya mengawini babon belaka, tapi tak pernah mau ikut mengerami telurnya sampai jadi anak ayam. Anak ayam turun berapa, tak mau tahu. Turun sepuluh, turun delapan, bisanya hanya tek kotek kotek……

Pusing benar Entin memikirkan kelakuan suami. Mau minta bantuan orangtua dan mertua sudah malu. Maka ketika anak ketiganya lahir, dia jadi putus asa sehingga kehilangan rahmat Allah. Bayi merah itu langsung dicekik dan dibuang di kebon cabai. Atas laporan pemilik kebon, orang hamil di kampung itu lalu “disweping”, sehingga dengan mudah Entin bisa ditangkap. “Saya takut tak bisa ngurus dia, sedang suami juga sudah lupa sama anak istri,” kata Entin di depan polisi.

Jangan cemas, semua dapat jatah rejeki dari Gusti Allah. (Gunarso TS)

Tags
Show More

Related Articles

Close