Nah Ini Dia

Gara-Gara Gadaikan Istri Malah Salah Bunuh Orang

Home Nah Ini Dia

Gara-Gara Gadaikan Istri Malah Salah Bunuh Orang

Senin, 17 Juni 2019 — 8:38 WIB

YANG bisa digadaikan itu barang-barang berharga. Rupanya Huri, 43, menganggap istri sebagai barang berharga, sehingga digadaikan pada Makmun, 40, senilai Rp 250 juta. Dipulangkan bentuk tanah Makmun tidak mau, sehingga hendak dibunuhnya. Sialnya, ketika eksekusi dilakukan, yang terbunuh justru Subur, 34, bukan Makmun.

Di kantor Pegadaian, paling banyak digadaikan itu perhiasan emas, menyusul kendaraan sepeda motor maupun mobil. Tapi biar terbuat dari emas, gigi mas tak laku digadaikan. Soalnya pihak Pegadaian juga tidak tega, selama gigi emas tergadai, pemiliknya jadi kelihatan ompong, sehingga jarang tertawa. Apa lagi kalau penyanyi, terpaksa istirahat manggung karena mulut jadi ngempossss……

Nah, Huri warga Ranuyoso Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, juga menganggap bahwa istri merupakan barang berharga tiada tara. Karenanya ketika kepepet butuh (terdesak keuangan), Ny. Yayuk, 35, istrinya digadaikan pada Makmun, warga Gucialit. Isi perjanjiannya adalah, istri baru bisa dipulangkan manakala Huri telah membayar lunas utangnya yang tanpa bunga tersebut.

Kalau barang berharga, barang jaminan utang disimpan di almari. Karena barang berharga itu berupa perempuan cantik, mana mungkin dianggurkan di almari? Maka Makmun pun kemudian memperlakukan bak istri sendiri. Maksudnya, Yayuk, juga digauli bak istri. Anehnya, perempuan yang diperlakukan barang itu tak juga protes.

Sampai setahun rupanya Huri tak mampu bayar utangnya. Itu artinya Yayuk selama 365 hari harus siap melayani nafsu Makmun kapan saja minta. Padahal Yayuk ini orang dan bodinya serba menggairahkan, mengingatkan pada Yayuk Camalin model iklan di tahun 1970-an. Karenanya Makmun njuk neh dan njuk neh (minta lagi) seperti anak kecil minum bodrexin. Bisa tiga kali seminggu sesendok makan.

Sebaliknya Huri, karena tak mampu lunasi utangnya, selama 12 bulan kedinginan dan ngaplo (bengong) setiap malam gara-gara istri masih jadi borg utang. Karena tak tahan kedinginan dan takut reumatik pula, dia mencoba bernego dengan membayar pakai sebidang tanah. Ternyata Makmun menolak. Di samping dihargakan terlalu tinggi, juga lokasi tanahnya tak strategis. Baginya Yayuk lebih manis dan pulen bagaikan beras rojolele Delanggu atau mentik di Lumajang.

Penolakan itu bikin Huri marah dan berencana membunuhnya. Pertimbangannya, jika Makmun meninggal, otomatis Yayuk pulang dengan sendirinya kendatipun kondisi mesin dan gardan soak karena tak pernah ganti olie. Maka beberapa hari lalu pukul 20.00 malam dia mencoba nyatroni rumah Makmun.

Menjelang tiba di rumah tujuan, dia melihat sekelebat orang yang posturnya mirip Makmun. Tanpa ampun lagi langsung disabet clurit. Orang itu mengaduh dan ambruk.Huri kaget sekali karena dari suaranya bukan Makmun, tapi Subur yang masih kerabat sendiri. Begitu disorot pakai sinar HP, benar juga bahwa si korban memang si Subur.

Subur akhirnya masuk kubur dan Huri menyerahkan diri ke polisi. Polisi pun kaget dengar pengakuan tersangka. Baru kali ini istri dijadikan obyek agunan. Karenanya bisa dipastikan yang diusut bukan saja Huri, tapi juga Makmun karena melanggar aturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) di samping bisa kena pasal perzinaan.

Sial banget Huri; bakal masuk penjara tapi utang juga belum tentu impas. (Gunarso TS)

Tags
Show More

Related Articles

Close