Nah Ini Dia

Ogah Perkosa Ibu Pertiwi Malah Perkosa Adik Ipar

Home Nah Ini Dia

Ogah Perkosa Ibu Pertiwi Malah Perkosa Adik Ipar

Jumat, 12 April 2019 — 7:10 WIB

DI KALA geger soal “perkosa ibu pertiwi” di musim kampanye, Arif , 30, dari Lampung malah mau memperkosa adik iparnya, Pardinah, 19. Alasannya kedinginan gara-gara kehujanan. Hujan melulu memang bikin orang kencing melulu. Tapi Arif tak boleh dong “mengencingi” adik ipar!

Di masa kampanye ini Capres No. 02 sempat melempar isyu “ibu pertiwi diperkosa”. Ibu pertiwi kok diperkosa, bagaimana caranya dan sebelah mana?. Bukankah kata komponis Ismail Marzuki ibu pertiwi sedang bersusah hati, sampai air matanya berlinang emas intan terkenang? Beda lagi dengan almarhum dalang Nartosabdho dari Semarang, katanya ibu pertiwi paring boga lan sandang kang murakabi.

Paling beda dan paling kurang ajar justru kata Arif dari Blambang Pagar, Lampung Utara. Ketimbang memperkosa ibu pertiwi yang hanya fiksi, dingin-dingin habis kehujanan mending memperkosa adik ipar saja. Untung saja Pardinah melawan, sehingga perkosaan tak sampai terjadi. Sampai setan pun bilang, “Nggak masuk Pak Eko?”

Bukan saja melawan, Pardinah juga melapor ke orangtuanya. Sudah barang tentu sang mertua marang besar, sudah dikasih kakaknya, kok masih nginceng adiknya juga. Ini mantu cap apa? Tak peduli akan bikin kapiran anak dan cucu-cucunya, Arif Uyuhono dilaporkan ke polisi dan ditangkap.

Ketika Arif menikah 5 tahun lalu dengan Partinah, adik iparnya yang bernama Pardinah ini memang masih ABG, sehingga belum enak dilihat mata. Ibarat mangga, baru buntel pelok tapi belum kemuning (setengah mateng). Karenanya Arif tak pernah berpikiran yang mboten-mboten.

Tapi sekarang ini, Pardinah dalam usia menjelang kepala dua, sungguh menawarkan sejuta aroma, lebih indah dari warna aslinya. Lebih cantik dari kakaknya. Karena masih gadis bodi Pardinah benar-benar sekel nan cemekel, bila berjalan sungguh menggamit rasa merangsang pandang. “Pardinah memang enak dikeloni dan perlu,” kata batin Arif Uyuhono.

Tapi itu sebatas wacana, karena nikmat imannya lebih dominan ketimbang nikmat seks. Akal sehatnya masih jalan, dan Arif memang tak kebanyakan micin, dan suka juga piknik. Cuma setan ini nih, tiap hari merayu dirinya tanpa henti macam Timses Capres-Cawapres. “Besok sampeyan nyoblos Jokowi apa Prabowo terserah, tapi sebaiknya nyoblos juga Pardinah ya?” ujar setan sahabat jin Tomang.

“Ya, bagaimana nantilah…..,” jawab Arif sepertinya mulai melunak. Dan ndilalah kersaning Allah, beberapa hari lalu diminta mertua menjemput Pardinah sepulang sekolah di sebuah SMA. Hingga jam itu Arif belum ada niat macem-macem. Dia memboncengkan adik iparnya biasa-biasa saja.

Tiba-tiba hujan lebat datang, disusul gerimis tak henti-henti. Karenanya Arif dan adik iparnya “tersandera” di sebuah pos Satpam yang kosong. Dalam kondisi dingin itulah kemudian dia ingat akan saran dan masukan dari setan. Maka ketika badannya bersinggungan dengan Pardinah, tangannya mulai iseng hendak menjamah dada adik iparnya.

Meski sudah ditepiskanya, Arif tak surut juga. Bahkan berusaha mendekap dan menjamah daerah sensitip lainnya. Pardinah berontak dan kemudian kabur untuk naik angkot. Setibanya di rumah langsung mengadu pada orangtuanya, dan Arif langsung dilaporkan polisi. Maka Arif yang tiba lebih dulu di rumah, tak lama kemudian dijemput petugas.

Pemilu belum tiba, sudah mau main coblos saja. (Gunarso TS)

Tags
Show More

Related Articles

Close