Luar Negeri

Buku baru: mantan pemimpin Taliban hidup di depan mata AS

Buku baru: mantan pemimpin Taliban hidup di depan mata AS

Kamis, 14 Maret 2019 22:33 WIB

Mullah Mohammad Omar (Reuters)

Kabul (ANTARA) – Satu buku biografi mantan pemimpin Taliban, yang bermata satu, Mullah Omar, menyebutkan ia tinggal di dekat satu pangkalan AS selama bertahun-tahun, bukan di Pakistan seperti yang telah dikatakan para pejabat Amerika.
Buku itu mengungkapkan kegagalan Barat untuk melacak dia. Tapi seorang juru bicara presiden Afghanistan menggambarkan pernyataan tersebut sebagai "khayalan".
Di dalam bukunya, "Op Noek Naar De Vijand (Mencari Seorang Musuh)", wartawati Belanda Bette Dam mengatakan Mullah Omar tak pernah tinggal di negara tetangga Afghanistan, Pakistan.
Milisi Taliban, yang dipimpin Mullah Omar, menguasai Afghanistan dari 1996 sampai 2001, dan telah melancarkan perlawanan anti-pemerintah sejak itu.
Mullah Omar, yang melimpahkan kemimpinan Taliban sejak 2001, tampaknya telah bertindak lebih sebagai pemimpin spiritual, kata buku tersebut, sebagaimana dilaporkan Reuters –yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam. Dan gerakan garis keras itu merahasiakan kematiannya pada 2013 selama dua tahun.
Ia dicari di Amerika Serikat karena menyediakan tempat bersembunyi buat pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden, yang disebut-sebut menjadi otak serangan 11/9 di Amerika Serikat dan bersembunyi di Pakistan. Washington telah menjanjikan imbalan 10 juta dolar AS untuk pemberi keterangan mengenai keberadaan Osama.
Pasukan AS bahkan menggeledah tempat tinggalnya dalam satu kejadian, tapi gagal menemukan tempat persembunyian Omar, kata Dam kepada Reuters.
"Buku tersebut menggaris-bawahi kegagalan dinas intelijen Barat pada saat para pejabat AS dan Taliban mengadakan pembicaraan perdamaian guna mengakhiri perang 17-tahun di Afghanistan," kata wartawati itu.
Kedutaan besar AS di Ibu Kota Afghanistan, Kabul, belum menanggapi permintaan untuk memberi komentar. Amerika Serikat telah menghentikan Dana Dukungan Koalisi buat Pakiatan akibat "kegagalannya" untuk melakukan tindakan tegas terhadap anggota Taliban Afghanistan yang beroperasi dari wilayah Pakistan.
Haroon Chakhansuri, Juru Bicara Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, "dengan tegas membantah" buku tersebut dan mengatakan itu adalah "pernyataan khayalan" bahwa Omar berada di Afghanistan.
"Kami memiliki cukup bukti yang memperlihatkan ia (Omar) menetap dan meninggal di Pakistan …," kata Chakhansuri di akun Twitter.
Amrullah Saleh, mantan kepala dinas intelijen Afghanistan dan calon dalam pemilihan presiden mendatang, juga menolak buku itu.
"Apa yang disebut laporan investigasi dan menyatakan Mullah Omar tinggal dan meninggal di Afghanistan tak lebih dari sepotong propaganda manipulatif," katanya di akun Twitter.
Pada Juli 2015, Taliban secara resmi mengkonfirmasi Mullah Omar telah meninggal dua tahun sebelumnya.
Putra paling tua Mullah Omar, Mohammad Yaqoob, mengatakan di dalam rekaman audio pada September 2015 bahwa ayahnya telah menderita hepatitis C dan meninggal di Afghanistan.
Dam sebelumnya telah menerbitkan buku mengenai Afghanistan dan menjadi pengajar tamu mengenai Afghanistan di Sciences Po di Paris.
Buku Dam diterbitkan dalam Bahasa Belanda pada Februari.

Penerjemah: Chaidar Abdullah
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

  • TAGS:
  • Mullah Omar
  • Taliban
  • Afghanistan

Berita Terkait

Buku baru: mantan pemimpin Taliban hidup di depan mata AS

14 Maret 2019 22:33

Irlandia: EU berpeluang tawarkan penundaan 21 bulan Brexit

14 Maret 2019 21:54

IKFA diharapkan berikan pelatihan kewirausahaan kepada buruh migran

14 Maret 2019 21:14

150 pemukim Yahudi serbu kompleks Masjid Al-Aqsha

14 Maret 2019 21:04

Dua dubes lantik pengurus baru Perkumpulan Persahabatan Indonesia-Korea

14 Maret 2019 20:58

IKFA diharapkan perkuat hubungan Indonesia-Korea Selatan

14 Maret 2019 20:47

Rombongan Taliban diserang pasukan AU Afghanistan

14 Maret 2019 20:43

PLO: laporan HAM AS dimaksudkan untuk membersihkan pendudukan Israel

14 Maret 2019 20:37

Indonesia bantu Malaysia ungkap kasus dua WNI dimutilasi di Selangor

14 Maret 2019 17:56

Malaysia Tutup Ratusan Sekolah

14 Maret 2019 17:15

Brazil hentikan operasi Boeing 737 MAX 8

14 Maret 2019 17:06

Seorang pelajar Indonesia dibebaskan dari penyanderaan di Yaman

14 Maret 2019 16:45

Komentar

Kirim ×

Login

Username Password Tetap masuk Masuk Belum Daftar? Registrasi Login Dengan FACEBOOK TWITTER GOOGLE Tutup
Sumber: ANTARA

Show More

Related Articles

Close