150 tumpeng sambut “Suronan” di Semarang

0
36

150 tumpeng sambut "Suronan" di Semarang
| 431 Views

Pewarta: Zuhdiar Laeis

150 tumpeng sambut Grebeg Tumpeng Suro. Warga mengarak tumpeng raksasa berkeliling kampung di Pekulo, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (20/9/2017). Sebanyak 20 tumpeng raksasa dan gunungan hasil bumi itu, diarak untuk menyambut pergantian tahun Islam (Muharam) atau dalam kalender Jawa dikenal dengan bulan Suro. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)

Semarang (ANTARA News) – Sekitar 150 tumpeng lengkap dengan berbagai lauk pauk menyambut malam "Suronan" atau tahun baru Islam 1 Muharram 1439 Hijriah di Balai Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu malam.
"Kembul bujana" atau tradisi menyantap tumpeng secara bersama-sama merupakan yang kedua kali digelar Pemerintah Kota Semarang menyambut 1 Muharram, setelah tahun lalu digelar di Lapangan Simpang Lima Semarang.
Dalam "kembul bujana" itu, semua yang hadir duduk bersama mengelilingi tumpeng, sembari menunggu dilantunkannya doa sebagai harapan untuk sesuatu yang lebih baik untuk tahun depan dibandingkan tahun ini.
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan "kembul bujana" itu merepresentasikan kesejajaran dari semua orang dari berbagai latar belakang, baik jenjang kepangkatan, status sosial, maupun masyarakat biasa.
"Semuanya duduk bersama untuk menikmati nasi tumpeng secara bersama-sama. Dalam membangun Kota Semarang, lepaskan segala sekat perbedaan yang ada, mari bersama-sama," kata orang nomor satu di Kota Semarang itu.
Perbedaan, lanjut dia, jangan sampai menjadikan pembangunan terhambat, apalagi cuma perbedaan warna, sebab pembangunan harus melibatkan seluruh masyarakat dan berbagai pihak, bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
"Nek sing abang dolane karo abang, sing biru karo biru, ra maju (kalau yang merah berteman hanya dengan yang merah, yang biru dengan biru, tidak akan maju, red.)," kata politikus PDI Perjuangan itu.
Yang punya pangkat, kata dia, "dolane" hanya dengan yang punya pangkat, yang punya uang juga dengan hanya yang punya uang, lanjut Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, akan membuat sebuah kota sulit maju.
"Dengan kembul bujana ini, marilah duduk bersama. Tumpeng ini bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga perhotelan, perbankan, badan usaha milik negara (BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD), dan sebagainya," katanya.
Hendi berharap warga Semarang sudah tidak lagi berbicara mengenai kepentingan pribadi, melainkan kepentingan bersama untuk menjadikan Kota Semarang lebih maju, lebih baik, dan lebih hebat ke depannya.
"Jangan hanya berpikir Semarang wis ngei (sudah memberi, red.) apa karo (untuk) aku, tetapi aku wis ngei apa kanggo Kota Semarang. Membangun sebuah kota, perlu banyak tangan," pungkasnya.
Hadir dalam "kembul bujana" menyambut 1 Muharram 1439 Hijriah itu, di antaranya Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, dan jajaran musyawarah pimpinan daerah.
Peringatan 1 Muharram 1439 Hijriah di Kota Semarang itu dimeriahkan pula pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Anom Dwijo Kangko yang mengangkat lakon "Anoman Maneges" dan hiburan lawak oleh Marwoto.

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya

Komentar Pembaca


Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here